Menyoroti Media Televisi Mainstream

Sahabat, mungkin kita orang yang paling doyan menonton televisi. Karakter kita yang suka dengan hiburan, suka dengan hal-hal yang memanjakan pikiran, suka santai, membuat kita lebih suka menghabiskan waktu di depan televisi. Terlebih stasiun televisi di negara kita bejibun jumlahnya. Jika bosan dengan satu program, tinggal pencet remote, pindah ke channel lain, cari acara yang lebih asyik.

Yang memprihatinkan, acara-acara yang dianggap menarik itu ditayangkan di waktu petang, seringkali menabrak adzan maghrib. Kita sebagai muslim kadang terlena. Masih mending kalau hanya terlambat shalat maghrib, yang lebih parah kalau sampai mengabaikan shalat maghrib gara-gara asyik di depan televisi. Na'udzubillah.

Ada lagi orang yang terlihat senewen. Katanya rumah terasa sepi kalau tidak menyetel televisi. Padahal yang ditonton juga acara sampah.

Menonton tayangan televisi, sebenarnya lebih banyak memerlukan penyaringan. Memang kita tidak bisa membendung arus informasi dan teknologi sekarang ini, tapi janganlah hidup kita dikendalikan oleh kedua arus tersebut. Kita yang harus pandai memilih mana tayangan yang bermanfaat dan mana yang harus dihindari.

Kalau kita tidak pandai memilih, tayangan-tayangan itu akan lebih mudah meracuni pikiran. Terlebih jika kita suka menonton media televisi mainstream. Kalau kita perhatikan, ada stasiun televisi yang setiap hari menyuguhkan acara komedian atau nyanyi dari pagi hingga malam. Berharap dengan menayangkan acara seperti itu televisi itu dapat pemasukan iklan yang besar. Tapi mereka tidak sadar (atau memang sengaja) membuat orang menjadi dangkal pikirannya.

Renungkan saja, kalau kita lebih banyak tertawa setiap hari, otak akan mengalami kemunduran. Di negara Barat sana, acara komedi di televisi memang ada, tapi ditayangkannya pada waktu malam dan hanya beberapa menit. Di negara kita, tiap hari orang dicekoki dengan acara lawakan dan jogetan. Pantas saja orang-orang kita nggak pintar seperti orang Barat.

Sementara media yang bernuansa politis, gemar sekali memutarbalikkan fakta. Mereka suka memelintir berita dan memprovokasi rakyat. Media ini hanya menjadi media partisan. Mereka membuat berita sesuai pesanan partai atau pejabat tertentu. Siapa tokoh yang sesuai dengan visi dan misinya, itulah yang akan diberitakan baik-baik. Tak perduli tokoh itu orang yang tidak berkemampuan dalam jabatannya, mereka akan mengelu-elukannya layaknya seorang yang tanpa cacat. Mereka juga sering memojokkan Islam, memfitnah dan membentuk opini yang menyesatkan.

Karenanya, berhati-hatilah menonton tayangan televisi. Saring mana program yang perlu ditonton dan yang tidak. Bila perlu blok televisi yang isinya hanya merusak.
Posted by: Cahaya Inspirasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar